Keriuhan pesta pemilihan kepala daerah di Aceh akan semakin santer di hari-hari ke depan. Meski jadwal pencoblosan belum ada kepastian hingga sekarang, tapi tahapan demi tahapan terus berjalan lancar, termasuk proses penyeleksian terhadap bakal calon baru yang memanfaatkan putusan sela MK.
Untuk kandidat yang berlaga di Pilgub, misalnya, tiga pasangan atau enam orang bakal calon baru mengikuti tahapan uji kemampuan baca Al Quran yang digelar KIP Aceh di Mesjid Raya Baiturrahman, kemarin. Mereka adalah Zaini Abdullah-Muzakir Manaf yang diusung Partai Aceh, serta dua pasangan dari jalur perseorangan, masing-masing Fakhrulsyah Mega-Zulfinar dan Hendra Fadli-Yuli Zuardi Rais. Dan, tahapan serupa akan dijalankan KIP kabupaten/kota terhadap calon-calon baru di daerah masing-masing.
Pemilukada Aceh 2012 memang akan lebih seru setelah kader-kader Partai Aceh mendaftarkan diri ke KIP Aceh dan KIP kabupaten/kota. Ditambah lagi keikutsertaan berbagai elemen masyarakat yang maju melalui jalur perseorangan atau independen. Di sini, selain mempertaruhkan harga diri ketokohan seseorang secara individu juga menjadi pertaruhan kelompok partai politik yang mengusung kader-kadernya maju di Pemilukada.
Partai Aceh sebagai pemenang Pemilu 2009 dan kini tengah mengincar kursi kepala daerah, tentu harus benar-benar diperhitungkan oleh kandidat yang diusung partai lain maupun kandidat dari jalur independen. Ini bukan saja berlaku untuk perebutan kursi gubernur/wakil gubernur, tapi juga pada perebutan kursi kepala daerah tinggkat II di Aceh.
Kita sambut kesiapan calon-calon yang diusung Partai Aceh untuk bermain fair. Mereka menantang lawan-lawan politiknya untuk berhadapan secara langsung secara fair. Tentunya, untuk bermain fair tidak hanya soal kesiapan mereka menantang para calon lainnya, tetapi mereka juga harus bisa mendorong terwujudnya kehidupan demokrasi yang baik di Aceh.
Sebagai kekuatan politik lokal di Aceh, para kandidat kepala daerah dari Partai Aceh harus benar-benar menjunjung tinggi etika dalam mencari simpati publik untuk menjatuhkan pilihannya pada mereka di hari H nanti. Bimbinglah rakyat untuk memilih kepala daerah sesuai hati nuraninya, tanpa ada paksaan ataupun embel-embel lainnya. Bukan hanya untuk kandidat dari PA, hal ini juga harus dilakukan oleh semua peserta Pemilukada Aceh 2012.
Dalam kampanye, misalnya, sampaikan program yang hendak dilaksanakan, tidak usah mencaci-maki, sehingga tidak membuat rakyat atau pengikut masing-masing kandidat berkelahi. Andaikan kalah dalam pertarungan, sampaikan salam kepada yang menang. Setelah itu, yang kalah pun harus tunduk dan mendukung kepala daerah terpilih agar sukses memenuhi kewajibannya.
Dengan demikian, Aceh bisa mewujudkan stabilitas politis yang mantap. Dunia pun akan mengakui bahwa semua elemen masyarakat di Aceh memang sudah dewasa dalam berdemokrasi. Inilah cikal bakal yang akan membawa perubahan bagi masa depan Aceh yang lebih baik. Semoga.[]





