
SUHERMAN memasak mie di warung Bang Din Tower, lembah Seulawah Inong, kilometer 82, kawasan Simpang Beutong, Muara Tiga, Pidie, akhir pekan lalu.
DI mana-mana, yang dimaksud mie daging biasanya mie yang dicampur dengan daging lembu, kambing dan ayam. Tetapi bagi para peladang di kaki gunung Seulawah Inong, maksud mie daging adalah mie yang dimasak bersama daging rusa, kijang atau kancil.
Beberapa waktu lalu dalam perjalanan Banda Aceh-Sigli, saya menjumpai tiga orang pejalan kaki berpakaian lusuh di kilometer 82, Lembah Seulawah Inong, kawasan Kecamatan Muara Tiga, Laweung, Kabupaten Pidie.
Dan lihatlah senapan yang menyilang di punggung mereka itu; mereka bagai orang-orang gerilyawan di masa konflik Aceh-Jakarta (2000-2005). Malam itu waktu sudah menunjukkan pukul 20.35 Wib. Udara terasa dingin oleh kelembaban sisa hujan senjahari. Dalam keremangan, wajah mereka terlihat sangar.
Orang yang berjalan paling depan menenteng dua ekor pelanduk. Ternyata bedil yang menyilang di punggung mereka bukan senjata standar perang. Hanya senapan angin. Dan dua ekor pelanduk yang sudah tak bernyawa itu adalah hasil buruan.
Ketika mencoba merapati dan mengiringi langkah mereka seraya mengajak bercakap-cakap, tahulah bahwa dua ekor kancil hasil buruan yang sudah disembelih itu, akan segera dibawa ke warung si Herman, untuk dibikin mie.
Suherman Saleh adalah seorang lelaki muda yang tampan bertubuh atletis yang di kawasan kaki gunung Seulawah Simpang Beutong dikenal sebagai seorang peracik mie daging kancil paling enak.
Si Gam atau Herman, panggilan akrab untuk Suherman, pendidikan formalnya hanya tamat sekolah menengah pertama, tapi mie masakannya, menurut warga peladang di situ, bagai orang tamatan pendidikan khusus di bidang masak-memasak. Dapat dimaklumi, Herman pernah enam tahun bekerja di Restoran Lamnyong, sebuah restoran elit dan paling terkenal di Banda Aceh.
Warga Gampong Batee, Kemukiman Kalee, Muara Tiga yang kini bermukim di desa isterinya, Gampong Cot Keutapang, Padang Tiji, Pidie, itu sudah empat tahun berjualan mie di warung milik suami kakaknya, yaitu yang di kawasan setempat dikenal dengan sebutan warung Bang Din Tower.
Meski dulu bekerja di restoran besar di ibukota provinsi, Herman justru lebih menikmati usaha jualan mienya kini meski di sebuah warung yang terletak di lembah gunung. Katanya, “Meski berada di restoran sebesar itu, namun saya pekerja di situ. Sekarang meski hanya berjualan di warung kecil, namun saya toke bikin mie di sini.”
Kendati terletak di lembah kaki gunung, warung tersebut jarang sepi. Di samping letaknya hanya terpaut beberapa meter dari sisi jalan negara Banda Aceh-Medan yang tak pernah hening dari deru mesin kenderaan, para peladang setempat pun sering memilih warung itu sebagai tempat mereka berkumpul, baik sore atau malam hari. Apalagi jika rombongan peladang itu baru pulang dari aktivitas berburu, mereka pasti membawa kancil hasil buruannya ke warung itu untuk dibikin mie oleh si Herman.
Kancil, mamalia yang dalam cerita rakyat dikenal sebagai binatang cerdik bahkan mampu mengecoh manusia, itu banyak terdapat di kawasan hutan gunung Seulawah. Dan para peladang di sini kebanyakan adalah penembak pasti alias sniper yang terlatih oleh kebiasaan menembak burung dan ayam hutan. Daging ayam hutan dan peulandok sangat enak bila dimasak dengan mie tumeeh. Demikian menurut mereka.
Da Peulandok yang dalam istilah lain disebut lapoh atau napoh itu khusus diburu malam hari lantaran matanya menyala dalam kegelapan. Rata-rata, tiap malam, di kawasan ini, beberapa ekor kancil beralih habitat. Dari belantara ke belanga mie si Herman, lalu ke perut para peladang pemburu. “Tapi mie-lapoh bikinan si Herman memang sangat enak,” ujar Bang Sop, seorang peladang cabai setempat, “Membuat kita ingin berburu lapoh tiap malam,” sambungnya.
Ditanya tentang ekosistem yang walau bagaimana ikut terusik akibat perburuan kancil tiap malam oleh para peladang di kaki Seulawah, Bang Sop yang bernama asli Yusuf Ibrahim, 38 tahun, itu menepis dengan apologinya yang terkesan sarat kegeraman.
Katanya, “Ah, orang-orang berduit banyak saja bahkan nyaris menebang habis pohon-pohon besar di Seulawah. Kami cuma berburu seekor-dua ekor kancil. Itu pun hanya untuk sekedar usaha memperbaiki gizi selama kami berladang di hutan ini yang memang tak mampu memenuhi pola menu makan empat sehat lima sempurna.”[]
Teks dan Foto : Musmarwan Abdullah