Belajar Keuletan dari Etnis Tionghoa

Tajuk Harian Aceh - 24 January 2012 | 0 Komentar

Etnis Tionghoa di seluruh belahan dunia, kemarin memperingati tahun baru China atau Imlek. Bagi mereka, tahun baru China 2563 adalah tahun naga air yang diyakini akan mendatangkan rezeki.

Di tahun naga air ini diprediksi ekonomi di Indonesia akan meningkat. Tapi, di sisi lain bencana alam juga masih akan mengintai. Selain itu, juga ada hal mengejutkan, salah satu pemimpin besar di Indonesia diprediksi akan jatuh.

Terlepas dari pemahaman mereka itu, sebenarnya banyak hal yang bisa kita tangkap dari perayaan Imlek. Ini di luar kontek ramalan-ramalan Feng Shui dan suguhan budaya negeri utara yang dipertontonkan, seperti barongsai dan lampion aneka warna.

Bagi kita di Aceh, juga ada kedekatan lain dengan Tionghoa sejak lama, paling tidak dari peninggalan lonceng cakra donya. Hingga akhir tahun 1970-an, sebenarnya kita masih melihat barongsai saat Imlek atau tangisan  warga Tionghoa di Kherkov saat mengebumikan mayat sanak keluarganya.

Keterikatan ini memang tidak perlu disembunyi-sembunyikan. Termasuk bahwa kita kalah ulet dari bangsa Tionghoa. Mereka dalam satu sisi positif merupakan pekerja keras, ulet, dan tahan banting. Bisa hidup di segala medan dan keadaan. Mungkin karena mereka mengambil tamsilan teratai, yang tetap berada di atas permukaan air setinggi apapun kondisi airnya. Sisi positif dari tamsilan itu harus kita ambil agar bangsa kita bisa mandiri seperti China.

Kita telah tertinggal jauh dari China. Negeri kita masih dicap sebagai negara pengemis, dan mengemis itu telah menjadi tauladan di masyarakat kita. Dari pemimpin hingga rakyat masih banyak yang menjadi “pengemis”. Mengatasnamakan negara lalu mengemis dari luar negeri, lalu yang lain mengemis atas nama daerah, atas nama jabatan, atas nama rekanan, atas nama pegawai, hingga atas nama pribadi. Mental pengemis nyaris menjadi biasa, sehingga tidak lagi membuat malu meski mengaku diri sebagai bangsa yang besar.

Coba lihatlah negeri China, meski terus digempur kapitalis Eropa dan Amerika, mereka tetap bisa menguasai perekonomian dunia. Etos kerja dan semangat serta disiplin tinggi akan membuat China bersiap menggantikan AS menjadi negeri adidaya baru di dunia.

Sementara kita, tampaknya belum berhasil membangkitkan motivasi dan mengambil kesempatan di tengah “keruntuhan” ekonomi AS dan Eropa. Yang ada malah terus membudayakan pengemisan. Karena tidak disiplin, karena malas, karena sudah terbiasa dapat uang enak tanpa harus banting tulang. Hanya sebagian kecil yang serius, namun bahkan dicap sok rajin dan disiplin, dicap bodoh, di negeri bertuah ini. Kita terkendala pada alasan klise, penuh kemunafikan yang pada dasarnya hanya sebuah kemalasan dan kebodohan.

Karena itu, mari kita introspeksi diri, dan jangan malu belajar pada keuletan dan kedisiplinan etnis Tionghoa. Mari kita menjadikan negeri ini sebagai negeri yang mandiri, tegar dan kokoh di atas kaki sendiri tanpa harus mengemis-ngemis pada bangsa lain untuk sekedar menyokong perut setiap anak negeri. Akhirnya, Gong Xi Fa Cai, suhu, engkoh, aci, dan amoy.[]

KOMENTAR