Ada Kejutan Apalagi di 2010?
By admin at 21 December, 2009, 11:52 pm
BEBERAPA hari lagi kita akan memasuki tahun 2010. Selama 2009, negeri ini masih diwarnai berbagai bencana yang tiada henti, dan datang silih berganti. Gempa, tanah longsor, dan banjir, terjadi di mana-mana. Terakhir, gempa Simeulue dua hari lalu dan banjir bandang yang melanda Pidie jaya.
Sementara kejutan di luar bencana alam juga terus mengiringi perjalanan bangsa ini selama 2009. Mulai kasus pembunuhan Direktur Rajawali Bandar yang melibatkan mantan Ketua KPK Antasari Azhar, kasus Cicak Vs Buaya, Skandal Century, hingga kasus Prita, bergulir bak sinetron picisan yang diselingi dengan kejutan-kejutan untuk memikat pemirsa.
Kembali ke bencana, gempa pasti akan terus mengintai wilayah perbatasan antar lempengan bumi, ya, di sepanjang wilayah kita ini. Tak ada yang tahu besar dan lokasi gempa, yang pasti akan terus terjadi. Berbeda dengan banjir, dan tanah longsor, yang mestinya bisa diprediksi. Tapi toh peristiwa alam ini juga banyak menelan korban jiwa, dan penanggulangannya selalu dilakukan setelah bencana terjadi.
Di Jakarta, Ibukota negeri ini, banjir kawasan pesisir atau kawasan pemukiman nelayan dan industri terjadi akibat kenaikan permukaan air laut, atau air pasang. Setiap tahun kenaikan air laut semakin bertambah. Dan sesuai teori ilmuwan yang kembali sering kita ulas, kenaikan permukaan air laut akan semakin meningkat akibat pemanasan global. Es di kutub telah semakin aktif mencair, gletser gletser telah banyak kering di belahan tengah utara, seperti yang terjadi di China.
Gletser di negeri Beruang Panda ini mencair 18 persen dalam lima tahun belakangan. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Pencairan es kutub dan gletser inilah yang akan memicu kenaikan permukaan air laut. Sehingga tahun 2040 mendatang, diperkirakan Indonesia akan kehilangan ribuan pulau kecilnya, dan sebagian daratan seperti di kawasan pesisir di Jakarta akan hilang tertelan air laut.
Bagaimana dengan Banda Aceh? Permukaan air laut juga akan berdampak di Ibukota Aceh yang rendah dan dekat laut ini. Walau desakan lempeng Australia telah “mengangkat” lempeng yang diduduki kota Banda Aceh, namun pemanasan global diyakini bergerak lebih cepat, sehingga tahun 2040, atau 2050, sebagian kota ini akan tergenang atau hilang juga.
Tapi siapa peduli? Toh itu “masih cukup lama” bagi orang yang masih ada untuk menikmati hidup. Untuk anak cucu? Ah, siapa yang peduli? Mereka akan hidup sesuai zamannya. Dan pikiran pendek seperti ini biasanya bersarang di kepala manusia yang kurang wawasan dan berperadaban “rendah”. Makanya, perusakan bumi, perambahan hutan dan laut terus dilakukan. Atau, ini terpaksa dilakukan karena lahan untuk hidup dan mencari penghidupan semakin sempit.
Bila itu yang terjadi, maka dampak perubahan alam akan menimbulkan persoalan sosial masyarakat yang amat besar pula. Tapi, siapa yang peduli ya? Siapa yang peduli pada masa depan anak cucunya, yang dipastikan akan lebih menderita dalam menjalani hidupnya, dari tahun ke tahun, di masa depan nanti.
Pahitnya hidup di negeri—yang selalu dibayang-bayangi dan terancam bencana alam—ini. Konon sikap hidup yang saling tidak peduli, tercerai berai dan salah kaprah, di segala lini kehidupan. Masih adakah harapan sedikit lebih aman dan tenteram bagi kita tahun 2010 nanti? Atau kita akan terus dipuaskan dengan degalan-degalan politik para bedebah negeri ini![]














No comments yet.