BADAN Rekonstruksi dan Rehabilitas (BRR) Aceh dan Nias akan berakhir pada tahun 2009. Berbagai langkah mengundurkan diri itu sudah mulai kelihatan di permukaan. Terjadi pengurangan pegawai secara bertahap, sampai akhirnya pada hari pembuburan itu tinggal Kuntoro Mangkusubroto selaku Kepala Badan Pelaksana BRR yang akan menerima surat pemberhentian dengan hormat dari Presiden Republik Indonesia.
Saat ini, sejumlah arsip BRR diserahkan kepada Badan Arsip Nasional Republik Indonesia dari Kuntoro kepada Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, disaksikan Kepala Arsip Nasional, Djoko Utomo dan Kepala Arsip Aceh Damhuri Abbas.
Menurut Djoko, arsip BRR menjadi sangat penting. Bukan hanya sebagai memori kolektif bangsa, tetapi juga memori kolektif dunia. Arsip BRR perlu dikelola dengan baik dan diselamatkan, sebagai bukti akuntabilitas kinerja BRR selama ini.
Penempatan arsip nasional itu di Aceh, memang cukup layak dan memenuhi asas kepatutan mengingat kejadian tsunami terbesar dunia ini terjadi di Aceh. Para peneliti, tentu akan banyak datang ke Aceh melalui Malaysia sambil juga melihat bekas-bekas kawasan yang diterjang tsunami 26 Desember 2004 lalu.
Kita menerima baik penempatan arsip tersebut dengan penambahan gedung baru di Aceh. Ini menjadi salah satu documenta historyca dunia yang berada di Aceh. Namun, kita juga berharap kepada BRR agar membangun juga monumen diorama tsunami di Banda Aceh. Monumen tsunami tadi bisa menjadi kisah nyata yang mempunyai nilai sejarah kemanusiaan ketika bencana alam yang amat dahsyat menimpa Aceh dan Nias.
Selain itu, monumen ini memberikan dampak wisata dunia terhadap Aceh. Upaya menarik wisatawan dunia sebenarnya amat terbuka lebar dengan menghadirkan diorama tsunami yang amat tragik itu. Dalam monumen tadi agar juga dilengkapi dengan berbagai diorama kawasan-kawasan yang hancur diterjang tsunami. Juga terdapat berbagai kelengkapan lainnya seperti film dokumenter, film cerita, slide, lukisan, buku-buku tentang tsunami dan foto-foto sebelum, ketika dan sesudah tsunami terjadi.
Saat ini berbagai film dokumenter tsunami beredar di seluruh dunia. Juga foto-foto dan buku-buku. Belum lagi hasil-hasil kajian dan penelitian para ilmuwan. Jadi, antara kearsipan rekonstruksi Aceh yang dilakukan BRR dan diorama tsunami akan saling terkait dan memberikan dampak pembelajaran, historika, wisata bagi masyarakat lokal, nasional dan dunia. Namun, bila hanya semata-mata dokumen kearsipan saja, maka nilainya menjadi amat kering bagi masyarakat.
Mengingat tsunami Aceh merupakan bencana besar dunia dalam beberapa ratus tahun ini, maka sangat layak apabila Pemerintah Aceh meminta BRR menganggarkan pembangunan gedung diorama tersebut. Dalam setahun proyek itu diharapkan selesai dikerjakan. Apalagi mengingat dana BRR cukup besar dan berlebih. Maka sudah sepatutnya BRR meninggalkan dokumen historika dalam bentuk diorama serta berbagai dokumen lainnya.
Tugas berikutnya, bila rencana ini berjalan adalah menugaskan pihak kedutaan besar Indonesia di berbagai negara untuk membeli berbagai buku, foto-foto, film dokumenter tsunami Aceh.
Jangan sampai terjadi, orang Indonesia akan pergi ke Amerika, Turki, Jepang, Cina, Brazil, Inggris, Belanda, Australia untuk melihat karya-karya foto, film, buku tentang tsunami Aceh.
Masih ada waktu yang cukup bila memang Pemerintah Aceh, BRR dan Pemerintah Pusat di Jakarta sepakat membangun diorama tsunami dalam satu komplek yang cukup luas.[]