Puisi Reza Mustafa
ketika itu kau berdiri
di sebuah sudut kerucut ujung benua
di hati kau tambatkan seutas tali penjerat
kau katakan pada angin
:suatu kali aku mati
suatu pagi aku bangun lagi
kutemukan orang-orang terkasih dulu
hilang dan tak mengenali
di sisi miring dunia ketiga
kau pernah berperang
dengan bala tentara awan dari tenggara
dan wanita yang kau kasihi
rupanya berselingkuh dengan matahari
kau murka, kau katakan pada angin
:suatu waktu aku menang
suatu malam aku bangun dan merejang
sisa cinta kemarin yang lupa aku jadikan asinan
Banda Aceh, Januari 2009
Negeri Zaitun
hari ini daun zaitun lebur
mesiu seperti menggantikan angin
langit tiap dua detik sekali bergetar
dan tanah yang dijanjikan
disulap jadi ladang pembantaian
sementara dunia telah turun ke jalan
meneriaki hentikan…hentikan…
di belah lain dunia jauh
aku meracik kata
do’a dan mencoba memanggil malaikat
dan Tuhan…
aku pikir Kau sudah bisa
bertindak seperti di zaman Luth dulu
Banda Aceh, Januari 2009
Jika Tsunami
seperti kemarin
ada yang berperang dengan matahari
saat langkahnya tersandung di jalan
hari ini ia baru saja
bunuh diri dan bergegas ke kuburan
menimbun dirinya dengan tumpukan daun mahoni
sedang para petarung
menunggu waktu hingga sang bulan turun
demi mengantar mereka ke punggung langit
ketika bumi telah redup
ia beranjak turun menyambangi seseorang yang
di tengah hutan bersemedi menghirup subuh
dan tibalah waktunya
mengutus laut demi menghukum dosa daratan
lama mayat-mayat terdera
hari itu semua bukan terluka
hanya sedikit bersedih sambil menyisakan beberapa derita untuk dijadikan teman tertawa di bawah tenda
(Ulee Lheue, 26 Dec. 08: Ada yang perlu dikenang tentang perkara-perkara silam namun bukan dengan perayaan).
Ritual
apakah kau ingin merajut angin
menggembalakan petuah rakyat demi perut buncit itu
jika matahari yang kau hisap adalah asing
tentu negeri ini bukan tempatmu
dan sangkakala imitasi yang kau tiup
ke muka oposisi adalah belagumu dari suku barbar dulu
kemudian di hari raya lima tahun sekali
kau suguh ritual tipu daya
hingga hari ini trotoar jejalanku
dipagari muka-muka politikus amatiran kampung mimpi
Lamteumen Emperom, January 2009
Reza Mustafa, mahasiswa IAIN Ar-Raniry dan peserta Seuramo Teumuleh II
“buat apa hidup kalau akhirnya harus kecewa”
“Hidup” aku penuh dengan tantangan,,. tiap kali aku jatuh cinta kepada seseorang, dan orang itu selalu sudah ada yang memiliki, dan aku ngga tahu harus bagaimana lagi, aku binggung dengan hidup ini. hidup aku tidak mempunyai arti lagi.
“Buat Apa” aku hidup lagi “kalau” aku harus “Kecewa”.
salut ma kamu, blognya seru n g’ ngebosenin. salam kenal ya….
hebat sekarang kamu ja… kalu bisa nulis sebagus itu…. kalau ada waktu kamu buat ya tentang alam yas semakin terlupakan
tak ragu saye…dengan reza
reza, puisi kamu kata teman di samping saya berkarakter dan ‘main’.