TAHUN 2009 segera berakhir, dengan berbagai dinamika yang terjadi dalam masyarakat dan pemerintahan negeri ini. Kriminalitas, narkoba dan kejahatan moral masih mendominasi persoalan hukum terbesar dalam masyarakat kita. Setidaknya angka kejahatan model ini masih didominasi perampokan, penganiayaan, hingga pembunuhan yang walau trendnya sesekali dalam sebulan atau beberapa bulan, namun tetap saja menakutkan.
Karena masih ada persoalan beredarnya senjata ilegal di tangan para penjahat ini. Kejahatan model kota besar juga mulai mendera Banda Aceh dan kota-kota kabupaten lainnya di Aceh pascatsunami. Kita memang belum melihat benang merah dari motif utama karena kebanyakan jarang terungkap akibat lihainya para pecoleng ini, namun kita duga mereka berasal dari luar daerah.
Pencurian dengan modus pencongkelan mobil, rumah dan khususnya sindikat pendongkel pintu mobil nasabah yang baru menarik uang di bank. Kita berharap polisi—dengan bantuan masyarakat— mampu mengungkap berbagai modus kejahatan moral dan aksi kriminal model baru ini. Kita yakin ini sebuah sindikat, yang harus dilibas secara teliti dan sabar. Pertanyaannya, masih maukah masyarakat membantu atau malah semakin tidak peduli pada sesama, hingga menimpa dirinya sendiri?Atau ini ekses lain apatisme masyarakat pada aparat hukum, sehingga ada yang malas melapor bila menjadi korban.
Kejahatan lain yang amat populer adalah aksi korupsi yang dilakukan para pejabat negara. Ada banyak sekali kasus yang terungkap, dan kita yakin ratusan kasus yang tidak terungkap karena sulitnya pembuktian—atau rapinya cara menutupinya—tapi umumnya berakhir dengan apatisme masyarakat yang bertambah. Kepercayaan kepada hukum terasa semakin menurun. Dan yang paling memalukan justru ketika daerah ini dikenal sebagai yang pertama menerapkan hukum syariat Islam, namun terjadi pembangkangan yang nyata menafikan hukum ini.
Mengapa kita membiarkan itu? Mengapa hanya demo demo yang semakin kurang menarik perhatian, akibat implementasi oleh pelaksana tak mencerminkan adanya hukum itu di daerah ini? Sebegitu munafikah kita? Padahal ada kesempatan untuk berbeda dengan daerah lain untuk meraih kepercayaan atas ketegasan hukum, dengan hukum syariat tadi. Tapi sungguh sayang, entah siapa yang berani mengakui bahwa sebenarnya pelaksanaannya telah gagal total.
Mampukah para pejabat formal maupun informal menerapkan atau mendesak agar sanksi hukum atas pelanggaran syariat ditegakkan bukan sekedar untuk isu politik, tapi benar benar untuk sebuah keadilan dan membuat jera sejera jeranya mereka yang melanggar moralitas di daerah ini? Bahkan sampai penjahat moral pencoleng uang rakyat, tak bisakah dihukum dengan hukum agama ini? Bila tidak, mengapa kita masih berpura pura seolah moral manusia masih bisa diperbaiki, di tengah derasnya globalisasi dan materialisme sekarang? Sungguh tahun yang membuat kesal, dan menipiskan harapan pada membaiknya peradaban kemanusiaan di daerah ini.
Tahun 2009 ditandai pula dengan kemenangan drastis partai penguasa, dan berkibarnya SBY di seluruh Indonesia dengan kemenangan mutlak menjadi presiden RI kedua kalinya. Namun kewibawaan dan kepercayaan rakyat sedikit terganggu dengan adanya kasus korupsi, semisal kasus Bibit-Chandra dan Anggodo yang perkasa. Belakangan, skandal Bank Century juga semakin memperburuk citra pemerintahan SBY, khususnya wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kita tidak tahu kebenarannya hingga kini. Keterkaitan hukum dan politik tingkat tinggi ini merisaukan di tengah perbaikan dunia atas krisis ekonomi global beberapa waktu lalu.
Kita juga risau nasib Aceh dengan berbagai persoalan, termasuk kesenjangan pola pikir terhadap arah pembangunan antara eksekutif, legislatif dan rakyat yang terpola masih sama dengan gaya pemerintahan masa lalu. Sebagian terlibat, sebagian bagai tercerabut haknya sebagai masyarakat.
Kita berharap tahun 2010 pemerintah dan masyarakat bergerak lebih sinkron dan lebih saling memahami ke mana sebenarnya Aceh mau di bawa? Terpilihnya Irwandi-Nazar dulu membuktikan adanya harapan baru dari masyarakat pada pola baru yang lebih modern, lebih cepat, lebih kompak, lebih tegas, dan lebih mandiri dalam membawa arah pembangunan Aceh. Haruskah kita kecewa lagi? Seperti yang sedang terjadi di tingkat nasional saat ini? Selamat tahun baru 2010, semoga kita semua akan lebih sukses dan lebih berbahagia.[]
Tentunya pingin membawa Aceh Tercinta ke suasana yang bebas embel2 mementingkan diri pribadi.. 2009 berlalu 2010 menjelang, Selamat Tahun Baru 2010.. banyak yang bilang tahun baru adalah lembaran baru.. sayangnya ungkapan tersebut cuman sebatas ungkapan.. lembaran barunya masih juga sangkut bercak2 lembaran lalu. yang pastinya lembaran baru cuma hiasan kata memperindah pidato2 atau apalah.. Smoga seluruh individu tidak membawa penyakit tahun 2009.. Salam kenal aja Blog Harian Aceh.