Pesawat Haji Diganti

Setelah enam tahun pesawat angkutan haji Aceh dilayani Garuda Airbus A-330, mulai tahun ini akan diganti dengan Boeing-767. Sama sama pesawat jarak tempuh menengah, dengan dua mesin turbofan (Extended Twins Engine Operations/ETOPS). Sama sama bisa menggunakan tiga jenis mesin, buatan Roll Royce (RR), Pratt & Whitney (PW) atau General Electric (GE). Tapi tentu dengan ciri keunggulan masing masing sebagai pesawat jelajah menengah (Extended Range).
General Manager Garuda Indonesia di Banda Aceh, Banjari Suhardi mengatakan, pesawat yang diganti lebih bagus dari Airbus A-330. Benarkah demikian? Pertama, bila benar yang digunakan Boeing 767, itu bermakna pesawat carteran atau sewaan dari maskapai penerbangan lain untuk keperluan angkutan haji. Paling ditempeli logo atau nama Garuda Indonesia selama musim haji. Karena, tidak ada catatan Garuda Indonesia pernah memiliki atau membeli pesawat jenis ini.
Kedua, Boeing 767 yang digunakan mestinya seri extended range (ER) atau jarak tempuh lebih jauh dari seri biasa (tanpa kode ER). Ini Boeing 767 seri yang “disempurnakan” dari versi sebelumnya, yang kelihatannya Boeing model ini memang kurang diterima di pasaran.
Ketiga, Boeing 767 memang buatan pabrik terkenal di Amerika Serikat, tapi bukan model yang populer dan laris di dunia seperti Boeing 737 atau 747 jumbo jet. Keempat, dari jumlah pesawat yang di order, jelas Airbus A-330 mengungguli pertarungan dengan tingkat pemesanan oleh arlines dunia yang lebih banyak dibandingkan Boeing 767. Airbus A-330 bermesin lebih kuat, jarak jangkau lebih jauh, jarak take off lebih pendek, tapi lebih berbadan besar dibandingkan Boeing 767.
Secara awam pun, orang bisa melihat kapasitas angkut yang lebih besar Airbus A-330 dibandingkan Boeing 767. Jamaah haji Aceh biasanya berangkat 325 orang dalam satu kloter dengan Airbus A-330, nanti hanya 263 jamaah per kloter. Jadi, apanya yang lebih baik? Paling paling tahun produksinya yang lebih baru, itu pun bila dibandingkan Airbus A-330 seri 200 dengan Boeing 767 seri terakhir (400 ER). Airbus A-330 diproduksi tahun 1998, Boeing 767 tahun 1999.
Jadi, Airbus A-330 sangat tidak sebanding dengan Boeing 767. Pesawat buatan konsorsium negara negara Eropa itu jelas lebih baik dibandingkan Boeing 767. Apalagi melihat kapasitas angkut, tampaknya Boeing 767 yang disewa hanya seri 200ER, atau paling paling 300 ER. Kita dapat dengan tegas mengatakan, Airbus A-330 jauh lebih bagus dari Boeing 767. Tidak ada data yang membuktikan sebaliknya. Jangan jangan ungkapan Boeing 767 lebih bagus hanya untuk melegakan pengelola haji di Aceh atau jamaah, agar tidak muncul dugaan macam macam akibat pergantian itu.
Setelah Boeing 747 gagal menerbangkan jamaah haji Aceh karena alasan teknis dan keselamatan penerbangan (?). Kita sebenarnya ingin mendengar alasan yang jujur saja mengenai perubahan pesawat jamaah haji Aceh tahun ini. Apakah karena Airbus A-330 harus menjalani rute yang padat ke luar negeri dan mempertahankan pasar di jalur luar negeri tertentu? Atau karena Airbus A-330 dipakai untuk keperluan perjalanan ke luar negeri kenegaraan (presiden/wapres) seperti yang selama ini digunakan? Atau justru dipakai untuk jamaah daerah lain, karena jamaah Aceh sudah “bosan” dengan Airbus A-330 setiap tahun?
Dengan panjang runway telah mencapai 3.000 meter, pesawat sekelas Boeing 767 apalagi Airbus A-330 tentu tidak ada masalah lagi bagi bandara Embarkasi Haji Aceh, Bandara Sultan Iskandar Muda. Tapi kita juga ingin melihat burung besi yang gagah dan kuat yang membawa jemaah haji Aceh ke tanah suci. “Pemberian” Airbus A-330 milik Garuda Indonesia sejak awal kita anggap sebuah keistimewaan. Apakah Boeing 767 ini juga sebuah keistimewaan? Rasanya kok tidak. Pesawat biasa saja, dan tidak lebih baik dari Airbus A-330. Bukan begitu pak manager?(*)


You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

AddThis Social Bookmark Button

Leave a Reply