Syukurlah ; “Wali” Tiba, Situasi Terjaga
Riuh rendah penyambutan “Wali Nanggroe” akhirnya usai tanpa insiden berarti. Semuanya berlalu dalam damai, paling tidak tak seperti yang dikhawatirkan banyak fihak. Puluhan ribu orang memang sempat menunjukkan eforia. Jalanan macet di mana mana. Namun entah masyarakat Kota Banda Aceh, aparat keamanan hingga petugas kebersihan tampaknya telah menunjukkan jiwa besar dan kesabaran luar biasa yang patut kita acungi jempol.
Berbagai dugaan penyambutan puluhan ribu orang bisa berdampak kurang baik. Dugaan itu sah sah saja, mengingat siapa bisa mengontrol emosi dan luapan hati massa sebanyak itu? Banyak orang tua sempat tidak mengizinkan anaknya sekolah, dan aktivitas pertokoan di pusat kota Banda Aceh pun terhenti, Sabtu kemarin.
Namun usai “pesta” yang cukup riuh rendah itu, semua berlangsung normal kembali. Patut kita puji pula semua fihak, baik panitia hingga massa yang ternyata cukup tertib pula untuk ukuran seramai ini.
Memang ada beberapa yang tidak enak dipandang, didengar maupun dirasa. Tapi itu sangat biasa dalam kumpulan manusia sebanyak itu. Namun akhirnya memang rasa syukur, tidak ada peristiwa yang menyesakkan, kecuali penyambutan dan kedatangan Dr Tgk Hasan Tiro itu sendiri tentu saja.
Di antara massa penyambut juga muncul aspirasi hingga emosi beragam. Sebagian mengaku kecewa karena hanya bisa menyaksikan Tgk Hasan Tiro dari jarak jauh, sebagian lainnya merasa sangat puas dapat melihat langsung dari dekat deklarator GAM yang fenomenal itu.
Tapi akhirnya Kota Banda Aceh Minggu kembali berdenyut, meski masih agak sepi. Namun aktivitas perdagangan di kota Banda Aceh relatif sudah normal kembali. Pertokoan dan swalayan di kawasan masjid raya Baiturrahman, swalayan Pante Pirak dan pertokoan di sepanjang jalan T Umar, Diponegoro, pusat kota hingga ke Darussalam telah beraktivitas kembali.
Begitulah seharusnya demokrasi dipertontonkan. Di saat yang lain sedikit eforia, ada yang lain yang mengalah. Kalaupun ada insiden kecil, seperti pencabutan bendera partai hingga pelanggaran lalu lintas, mungkin kita bisa maklumi. Bila ada yang merasa sangat rugi, tentu saja ruang hukum terbuka. Toh fihak yang bisa dimintai tanggungjawab dalam soal itu. Setidaknya, kita juga bisa fahami dalam massa sebanyak itu sulit mengontrol kalau ada oknum yang suka membuat kacau. Tapi secara umum (peristiwa) itu di luar dugaan banyak kalangan. Berakhir damai, sesuai harapan sang wali sendiri, yang benar benar mampu memberi kesejukan dengan orasi yang mengajak masyarakat mempertahankan damai di bumi Aceh. Semoga peristiwa kemarin semakin memperkuat keyakinan kita, bahwa damai abadi di Aceh bukan sesuatu yang sangat sulit lagi untuk dicapai.
Semoga kedatangan Dr Tgk Hasan Tiro benar benar memberi arti positif bagi kelanjutan perdamaian di Aceh, dalam arti sebenarnya. Kewajiban kita memperkecil kecurigaan antar fihak dengan aksi yang saling mengalah, dan bila perlu mengingatkan teman agar tetap menjaga emosi walau boleh sedikit bereforia atas sebuah perasaan sukacita dan bahagia. Asal jangan lupa ingatan dan pesan agar perdamaian ini tetap terjaga saja.
Mari bersatu membangun Aceh Baru yang damai, makmur, maju, beretika, bermoral dan bermartabat dalam segala aspek kehidupan. Mungkin ini yang lebih sulit dari perdamaian itu sendiri. Entahlah…(*)
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply