Berharap Berkah dari Kepulangan Hasan Tiro
Dalam sebulan terakhir, rencana kepulangan Hasan Tiro ke Aceh menjadi menu utama pemberitaan media, terutama media cetak yang terbit di Aceh. Bahkan, berita kepulangan tokoh GAM tersebut kerap mengesampingkan isu lain yang sebenarnya lebih menarik untuk dikupas dan disajikan ke publik. Sebut saja insiden tenggelamnya kapal tongkang di Selat Malaka yang menewaskan belasan TKI, termasuk tiga warga Aceh.
Ketokohan Hasan Tiro menyita minat media secara lebih besar ketimbang insiden tewasnya TKI tersebut. Hal ini, menunjukkan jika Hasan Tiro merupakan sosok berpengaruh bagi masyarakat Aceh, bukan hanya bagi kalangan GAM namun bagi masyarakat Aceh secara keseluruhan. Bahkan, meski tidak diakui, rencana kepulangan Hasan Tiro ke Aceh juga mendapat respons para petinggi republik ini.
Baik ditanggapi positif maupun negatif, yang jelas, pemberitaan mengenai rencana kepulangan Hasan Tiro ke Aceh menjadi konsumsi publik. Karenanya, sesuatu yang wajar bila masyarakat Aceh berharap banyak dengan kepulangan Hasan Tiro ke Aceh akan dapat mendorong terciptanya perdamaian abadi di tanah Serambi Mekkah.
Paling tidak, dengan diberikan visa bagi Hasan Tiro untuk menginjak tanah kelahirannya, secara otomatis Pemerintah Indonesia telah menguburkan rasa permusuhan terhadap pemimpin tertinggi Gerakan Aceh Merdeka itu. Hal ini tentunya telah membuka sejarah baru bagi Aceh, selain keberhasilan dilakukannya penandatanganan kesepakatan damai atau MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005 silam.
Padahal, kalau dilihat dari sejarah konflik Aceh, rasanya sulit tercipta kedamaian abadi di tanah rencong ini. Beberapa pemimpin RI berganti dan berbagai upaya dilakukan, tetap saja Aceh bergejolak dalam rentang waktu yang panjang. Kebijakan dan strategi yang dikembangkan pemerintah RI sudah banyak. Mulai dari pendekatan keamanan (Presiden Soeharto), pencabutan DOM (Presiden Habibie), pendekatan dialog dengan mediasi HDC (Presiden Abdurrahman Wahid), sampai penyelesaian Aceh secara damai dalam kerangka NKRI melalui kesepakatan penghentian permusuhan (Presiden Megawati).
Kemudian dilakukan dialog dan perundingan hingga mencapai kesepakatan penghentian permusuhan juga amanah MPR melalui Ketetapan No VI/MPR/2002.
Namun, upaya itu tidak ada yang bisa menyelesaikan konflik Aceh. Setiap opsi selalu mengandung kekuatan dan kelemahan, sehingga konflik Aceh tetap berkepanjangan. Malah, pada akhirnya, intervensi ilahiyah menjadi keniscayaan, saat musibah tsunami terjadi. Tsunami mampu mendorong para pihak yang bertikai untuk kembali ke meja perundingan, dan mengakhiri konflik puluhan tahun tersebut.
Dan, kalau kini kedamaian telah tercipta di Aceh, berarti hal ini semata-mata rahmat Allah yang dilimpahkan bagi bangsa ini. Kalau dulu Hasan Tiro diburu, bahkan Pemerintah Indonesia pernah mendesak Pemerintah Indonesia untuk menyeretnya ke pengadilan dengan tuduhan penjahat perang, kini sudah diberikan visa untuk menginjak kembali tanah kelahirannya. Semoga, ini benar-benar menjadi berkah bagi kelangsungan perdamaian abadi di tanah Aceh. Apalagi, kepulangan Hasan Tiro menunjukkan jika cucu Tgk Chik Di Tiro tersebut serius dengan perdamaian Aceh.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply