Tertipu Penampilan

Aceh adalah salah satu wilayah dalam peta bumi yang penduduknya menganut Islam sejak abad ke 7 Masehi. Berdasarkan beberapa referensi, Aceh adalah sebuah kelompok besar manusia yang disebut bangsa. Sebagaimana setiap orang punya karakter dasar, maka sebuah bangsa pun memiliki karakter dasar.
Seperti bangsa-bangsa lain di dunia, Aceh memiliki karakter dasar. Di antara banyak karakter itu, terdapatlah karakter peukeuramat. Karakter ini mengklaim sesuatu sebagaimana yang tampak di luar dan siapa yang lebih awal. Karakter ini juga mudah percaya pada sesuatu yang baru dikenalnya.
Memang, mudah percaya biasanya lahir dari jiwa yang jujur. Orang jujur tidak mencurigai orang lain, sehingga apapun yang tampak dari luar, berarti di dalam pun begitu. Kalau seseorang pakai sorban, janggut lebat, bawa butiran tasbih, orang itu pastilah ulama. Begitu kira-kira paradigma orang Aceh.
Paradigma ini lahir karena orang berpakaian seperti itu yang pertama datang ke Aceh adalah orang Islam dari Arab. Kalau lebih dulu yang datang dengan pakaian begitu adalah ahli Hindu dari India, tentulah orang Arab yang bawa Islam telah diusir oleh orang Aceh.
Dalam pemberitaan kemarin, seorang warga Lueng Bata, Banda Aceh, tertipu ratusan juta rupiah karena percaya dengan penampilan seseorang.
Bur yang berpenampilan seperti layaknya ustad berhasil memperdayai Juardisah. Meski Bur akhirnya harus meringkuk di sel polisi atas perbuatannya, tapi Rp215.100.000 milik Juardisah belum tentu kembali lagi. Kasihan Juardisah, ia menjadi korban paradigmanya sendiri.
Pada masa silam, pakaian, wajah ala Arab, dan pemahaman agama sedikit, setiap orang akan begitu muda memecundangi seluruh rakyat Aceh, termasuk ulamanya. Sebagaimana yang dilakukan Snouck Hurgronje.
Padahal, penampilan seseorang tidaklah mutlak mencerminkan pemakai pakaian itu. Kata pepatah, pakaian mengagungkanmu saat berjalan depan khalayak, namun pengetahuan mengagungkanmu setelah kau duduk.
Penampilan tidak penting dalam semua perkara, kendati saat pertama kali bertemu orang lain. Jangan tertipu dengan baju koko, janggut, peci haji, dan sebagainya. Sebab, Baggali pun berpakaian seperti itu.
Zaman menilai orang dari penampilannya telah lama berakhir. Kini zamannya menilai orang dari sikap dan perbuatannya. Karena, hasil akhir dari kehidupan seseorang, pekerjaan seseorang, atau usaha seseorang itulah yang menentukan bobotnya. Bukan penampilannya atau cara dia berinteraksi.
Jadi, kita tidak boleh menilai sesuatu dari kulitnya, melainkan dari isi dan bobotnya. Seseorang yang berpenampilan seperti orang baik-baik, belum tentu ia baik. Begitu jaga sebaliknya. Karena, hidup ini memang panggung sandiwara. Kita boleh memainkan peranan apa saja, sesuai yang kita inginkan, termasuk dalam hal berpakaian.(*)


You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

AddThis Social Bookmark Button

Leave a Reply