Gajah Sumatera

Belakangan ini, kita dikejutkan oleh pemberitaan gajah yang dibunuh tapi pembunuhnya tak diketahui. Lebih aneh lagi, gajah yang mati itu semua jantan. Ada apa dengan gajah-gajah kita? Banyak pertanyaan timbul terkait gajah itu. Mengapa gajah dibunuh, mengapa gajah mengamuk di Gampong padahal dulu tidak.
Masalah gajah adalah masalah besar, selain karena badan binatang berbelalai itu memang besar, biaya perawatan dan pengamanan juga besar. Dan banyak hal besar lain yang kalau ditinjau akan semakin membesarkan dana yang harus dianggarkan. Sementara penyebab harus dikeluarnya dana itu tak pernah disentuh untuk pertangungjawabannya.
Siapa dalang di balik gajah mengamuk, siapa dalang di balik gajah tewas? Untuk mencari tahu siapa pembunuh gajah, tidak mungkin kita tanyai saksi. Karena gajah itu tinggal di hutan dan saat dibunuh, siapapun yang melihat kemungkinan besar mereka terlibat.
LSM pemerhati lingkungan telah memproses tentang pembantaian gajah Sumatera. Mereka mengecam Dirjend Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) yang seolah-olah sengaja membiarkan gajah kita mati. Namun di balik semua itu, kita menyadari, semua pihak yang punya kepentingan dalam pengurusan gajah itu, mungkin saja sudah tahu siapa pembantai binatang berbelalai itu tapi tidak memberi tahu kita. Itu bisa saja terjadi
Terkait mengapa hanya gajah jantan yang dibunuh, dan mengapa gading dan kaki gajah yang hilang. Sudah jelas gading gajah itu mahal dibeli di luar. Kalau memang benar tulus mau mencari siapa pembantai gajah, mungkin bisa ditanya sama penadah gading.
Terlepas dari pembunuhan, terbersitlah Tanya, mengapa gajah-gajah itu mengamuk di kampong-kampung itu. Kita bisa bandingkan perasaan gajah dengan kita. Kalau rumah kita dirusak orang, apa yang kita lakukan? Dalam hal ini, pembabat hutan Aceh waktu lalu dapat diduga sebagai dalang gajah mengamuk. Begitu gajah mengamuk, penduduk terancam dan rugi. Begitu terancam, penduduk meracun gaja.
Begitu diracun gajah mati, begitu temannya mati gajah lebih marah. Begitu banyak gajah keluar, orang rakus menganggap itu sebuah kesempatan bagus untuk emndapatkan uang dengan menjual gading gajah. Tentu saja gajah tah mau memberikan gadingnya begitu saja, makanya gajah dibunuh. Begitu dibunuh gajah mati.
Jadi, awal perkara pembantaian gajah sumatera kemungkinan besar dipicu para penebang pohon waktu lalu. Penebang pohon itu orang luar. Akibat penebangannya, kita banjir, penduduk diserang gajah. Dana untuk atasi banjir begitu besar, apalagi penyelamatan gajah. Kalau dihitung-hitung, pajak setoran pemegang hak perusakan hutan, tak berbanding kerugian Negara akibat ulahnya. Namun akibat perusakan hutan itu terjadi jauh setelahnya. Dan tak dirasakan para penghancur hutan. Perusak hutan kaya-kaya, sementara korban banjir dan korban amuk gajah itu kebanyakan orang kurang mampu.
Terkait pembunuhan gajah lagi. Tuduhan LSM SILFA, pemerhati lingkungan mungkin didasari bukti kuat, bukankah Sumatera di Aceh memang sengaja dibiarkan tewas. Lagi pula gajah tak bisa mengadu, hanya mengamuk, kendati objek kemarahannya tak tepat. Namanya saja gajah.


You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

AddThis Social Bookmark Button

Leave a Reply