Teliti (Lagi) Ladang Migas Simeulu
BERITA yang sebenarnya biasa bagi sementara orang, tapi menjadi begitu besar bagi pertumbuhan ekonomi Aceh kelak. Bila benar di perairan Simeulu ada cadangan minyak dan gas yang begitu besar, Aceh kembali akan memberi kontribusi bagi penyelamatan ekonomi rakyat dan negara ini di masa depan. Apalagi bila benar cadangan calon bahan baker fosil itu mencapai 250 miliar barel.
Adalah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama lembaga riset geologi dan kelautan Jerman yang menemukan simpanan “emas cair” itu di perairan Simeulu itu. Berawal dari riset geologi pasca gempa dan tsunami 26 Desember 2004 lalu, kapal riset Sonne menemukan cekungan bermuatan cadangan minyak dan gas bumi itu. Konon, penemuan itu “berkat” munculnya patahan besar akibat sodokan lempeng Indo Australia ke dalam lempeng Eurasia. Bila benar, itu salah satu “hikmah” gempa dan tsunami yang kita rasakan.
Benarkah potensi sebesar itu ada dekat kita? Di Aceh ini? Banyak yang masih kurang yakin. Namun, faktanya penemuan itu telah terpublikasi dan bagus bagi harapan baru masa depan kita. Bukan untuk menjadi eforia. Apalagi, ada pendapat seperti dikatakan Gubernur Irwandi Yusuf: Bila berada di luar batas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE), maka cadangan emas cair itu bukan milik kita, setidaknya bukan milik negara kita.
Maka kita setuju pendapat Kepala BPPT Said F Jenie, yang berharap pemerintah segera melakukan penelitan lanjutan untuk meneliti kebenaran penemuan itu. Toh, BPPT dan LIPI sudah memiliki alat yang cukup untuk melakukan penelitian tersebut.
Kita ingin tahu benarkan cadangan sebesar itu? Benarkah berada kurang dari 12 mil laut dari perairan Simeulu? Bila benar, baru diperlukan langkah eksplorasi bagi kemakmuran rakyat dan negeri ini. Selama ini, eksplorasi selalu dengan konsesi bagi hasil bersama perusahaan tambang asing, yang cenderung mengambil untung besar, jauh lebih besar dari nagara dan anak negeri ini. Lihatlah ladang Arun, yang hingga kini hanya menyisakan perkampungan setengah kumuh di sekelilingnya. Menyisakan lempeng besi dan asap api yang ditinggalkan tenaga kerja yang umumnya berasal dari luar negeri dan luar daerah.
Karena itu, kita harap juga pemerintah daerah juga mengiringi proses penelitian ini bukan saja dengan kesiapan administrasi dan dukungan apa adanya saja. Tapi, bila potensi itu benar kelak, maka harus ada dukungan bagi SDM lokal untuk siap bekerja dan dipakai dalam penggarapan ladang migas itu. Bukan hanya sekadar bisa, tapi mestinya profesional. Selama ini kita iri melihat ladang Arun dipenuhi tenaga non-Aceh. Banyak orang bilang, “Habis mereka kurang kemampuan!” Kita balik bertanya: memangnya apa kelebihan mereka yang menjadi operator, supervisor, atau segala jabatan orang yang bekerja di ladang minyak itu dibanding anak anak kita? Rasanya kita juga bisa! Tinggal kita harus belajar, bersatu padu, tidak saling jegal, dan bahu membahu membangun daerah ini.[]
Bila semangat itu ada, rasanya tanpa ladang migas itu daerah kita juga sudah kaya. Kaya harta, dan kaya hati, bermartabat. Bisakah kita, Aceh, mendapatkan peluang itu di masa depan? Semoga ada ladang bening di hati kita semua, sebelum ladang migas itu benar-benar bermanfaat bagi kemajuan wawasan rakyat Aceh dan kemajuan daerahnya.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Agustus 4th, 2008 at 14:48
AYOO. SEMANGAT terus rakyat indonesia mari kita bersatu untuk membangun negara ini dari kemiskinan,, hilangkan rasa curiga sesama anak bangsa… mari kita lihat kedepan menuju indonesia yang maju dan bermartabat
Agustus 7th, 2008 at 16:28
tunggu dulu, masih banyak yang harus kita pelajari nih